Aneka Tantangan Industri Asuransi

Ada sejumlah tantangan yang harus dicermati perusahaan asuransi agar bisa survive dalam persaingan. Tantangan datang dari persoalan permodalan, inovasi produk, kualitas SDM sampai penanganan kasus.

Regulasi : Pemberlakuan PP 39/2008 tentang permodalan bakal menjadi ujian bagi keseriusan investor yang berkiprah di industri asuransi terutama yang bermodal di bawah Rp 100 miliar. Sebelumnya PMK 74/2007 yang mengatur tarif asuransi kendaraan menjadi upaya menertibkan persaingan tidak sehat. Regulasi lain memang mengemuka untuk dibuat agar industri semakin sehat.

SDM : Biro Perasuransian Bapepam LK tengah menggodok aturan kompetensi untuk Asuransi. Aturan ini akan mensyaratkan asuransi memiliki kualifikasi khusus untuk SDM di perusahaan. Kualifikasi agen pun akan mendapat perhatian pemerintah. Kompetensi mendapatkan perhatian karena pasar bebas sudah di depan mata.
Sosialisasi : Masih rendahnya animo berasuransi menjadi tantangan bagi industri untuk terus menggiatkan program edukasi dan sosialisasi. Selain pada ajang “Insurance Day Indonesia”, program pun dilakukan melalui “Insurance Goes To Campus”. Selain itu Asosiasi pun mengagendakan program sosialisasi berkesinambungan.
Inovasi : Persaingan menuntut perusahaan asuransi melakuakn inovasi baik produk maupun pengembangan bisnis. Ke depan sinergi antara perusahaan asuransi dengan berbagai industri keuangan maupun non keuangan makin banyak dilakukan. Di samping mengemas produk bersama, jalur distribusi yang dibuat pun lebih bervariasi. Yang tidak inovatif bisa tersisih dalam persaingan.
Pasar Investasi : Kondisi ekonomi dan pasar keuangan yang berfluktuasi menjadi rambu-rambu yang harus diwaspadai industri. Kejelian dan kecerdasan berinvestasi penting untuk menjaga kesehatan perusahaan. Karena kesalahan berinvestasi bisa menganggu kinerja keuangan dan menggoyang RBC (Risk Based Capital). Perusahaan pun dituntut lebih cermat dalam membuat produk, terutama yang memebrikan garansi return.
Penanganan Kasus : Lewat mediasi BMAI, terdapat 83 yang dilaporkan selama 2007. Dari jumlah itu, ada 61 kasus berada di luar yuridiksi BMAI dan hanya 22 kasus berhasil diseleseikan. “Tahun 2007 kan banyak perusahaan asuransi jiwa yang tutup. Kalau perusahaan sudah tutup gimana kita mau mediasi? Kan tidak mungkin,” hal ini yang disampaikan Ketut Sendra, Mediator Asuransi Jiwa dan Sosial dari BMAI. Ini merupakan tantangan serius bagi industri untuk membenahi berbagai aspek terkait dengan klien agar semua persoalan berada dalam koridor aturan. Tantangan seperti ini juga tidak hanya menjadi perhatian pelaku, juga ototritas agar berbagai kasus ada jalan penyesuaiannya.
[Berbagai sumber]
Bagaimana menurut anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s