Deja Vu

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan di dirimu,

Kecuali sudah ada dalam kitab sebelum Kami menjadikannya.

(Q.S Al Hadid 57:22)

Ketika Anda diperkenalkan dedngan seseorang, pernahkah terbersit dalam hati, “Rasanya saya pernah bertemu dengan orang ini. Di mana, ya?” Padahal, Anda belum pernah bertemu sebelumnya. Itu disebut gejala deja vu. Deja Vu adalah istilah bahasa Perancis yang berart: “pernah melihat sebelumnya”. Deja Vu adalah suatu perasaan aneh ketika seseorang merasa pernah berada di suatu tempat sebelumnya, padahal belum. Atau, mersa pernah mengalam,i suatu peristiwa sama persis, padahal tidak. Konon, orang sering mengalami hal itu memiliki bakat spiritual yang tinggi.

Para skeptis menganggap itu hanya sensasi. Namun, banyak juga ahli yang percaya bahewa hal itu memang nyata. Para penganut reinkarnasi yakin bahwa peristiwa yang dirasakan berlangsung pada kehidupan silam. Bagaiamana bagi orang Idlam? Surat Al Hadid ayat 22 di atas memberi sekilas isyarat. Bahwa segala sesuatu yang belum terjadi, sudah tertulis dalam kitab. Tengoklah juga surat Ash-Syaaffaat (37) ayat 96, “Wallahu kholaqokum wama ta’malun.Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat.

Semua peristiwa di bumi dan semua perbuatn kita memang sudah ada sejak awal. Lalu, akan terjadi satu per satu secara berurutan. Dan pada waktunya, akan terekam dalam saraf penyimpan otak. Mungkin suatu ketika terjadi short-circuit, korslet di otak seseorang. Lintasan listrik di otak melompat nyerempet sinyal ke wilayah yang belum terjadi. Maka orang merasa sudah pernah mengalami atau melihat sesuatu. Padahal yang terjadi: dia “pernah”, hanya dikaitkan dengan masa lalu. Gejala deja vu memperluas makna “pernah” ke masa lalu dan juga masa depan.

Aneh? Tidak juga. Kita lihat dalam Surat Al Fath ayat 27, Alloh membuka peristiwa ketika nantinya Rasululloh SAW memasuki Mekah dengan aman. Padahal, itu belum terjadi. Lalu Surat Ar-Ruum ayat 2-4 yang berisi tentang kemenangan Romawi atas Persia, padahal itu baru terjadi beberapa tahun kemudian. Itu contoh penyingkapan terhadap peristiwa yang belum terjadi bagi siapa pun yang membaca Al-Quran. Ternyata, selain kepada para nabi, kadang-kadang Alloh memberi “bocoran” masa depan kepada manusai biasa juga. Masa depan memang sudah ada saat ini. Hanya saja, kebanyakan manusia tidak bis melihatnya. Kecuali sekilas deja vu yang dialami segelintir orang tadi.

Wallahu a’lam.

Oleh: Ir. H. Bambang Pranggono MBA IAI

Majalah Percikan Iman No.11 Th.VII Nov 2006/Syawal 1427H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s