HIDUP HEMAT DI JERMAN

Perjalanan yang akan saya ceritakan adalah perjalanan ketika winter di Jerman.

Kota pertama yang dituju adalah Leipzig, ada dua alterantif angkutan, yaitu dengan pesawat terbang dan kereta api. Seperti halnya di Asia Tenggara terdapat Air Asia yang memberikan tarif murah, di Jerman pun terdapat cheap flight. Namun, kita harus pintar memilih jadwlal dan psikologis, permintaan pasar, umumnya pada pagi dan sore hari harganya akan lebih mahal dibandingkan penerbangan pada siang atau malam hari. Kali ini saya melakukan perjalanan di pagi hari, jadi saya memilih alternatif kedua, karena setelah dihitung-hitung ternyata harganya jauh lebih murah. Dan bonus lainnya yaitu kita bisa melihat pemandangan-pemandangan baru saat di kereta dibandingkan memakai pesawat terbang. Perjalanan akan lebih terasa bila kita melakukannya di darat. Seperti halnya air laut yang asin akan memuai karena panas lalu naik ke atas terbawa oleh awan kemudian hujan, dan air hujan ini akan terasa plain atau tawar. Begitu juga dengan perjalanan yang dilakukan bila via pesawat terbang, cepat sampai tujuan tapi dalam perjalannya terkadang terasa tawar.

Saat tiba di Leipzig, suhu mencapai sekitar minus lima derajat celcius. Bagi orang Indonesia yang biasa mengalami cuaca tropis, meski pernah mengalami winter, terkadang tetap saja dingin dengan suhu serendah ini tetap terasa menusuk tulang. Brrrrrrrrr…………

Di Leipzig lebih baik sewa apartemen atau lebih populer disebut Residence di Jerman. Hotel di Jerman lebih banyak dipilih untuk turis berkantong tebal. Harga untuk residence sebesar 30 Euro untuk 2 orang, harga yang cukup murah untuk ukuran di Eropa. Dengan harga ini kita mendapatkan fasilitas dapur untuk semalamnya.

Sebenarnya, kita bisa mendapatkan harga murah untuk hotel. Tips pertama, cari hotel murah l;ewat internet. Umumnya youth hotel punya jaringan hampir di seluruh kota di dunia, tapi sayangnya fasilitasnya sangat terbatas. Tips kedua, kita dapat bertanya pada imigran di sana, misalnya imigran Afrika, India, Asia, atau Timur Tengah. Umumnya, para imigran ini tinggal di wilayah-wilayah yang menyediakan fasilitas penginapan murah.

Makanan dan Minuman di Jerman

Di Jerman dan Eropa pada umumnya tidak sulit unutk mencari makanan halal karena disana banyak imigran muslim membuka usaha makanan jenis ini, di antaranya imigran dari Turki dan Maroko. Makanan yang cukup populer adalah kebab. Dengan harga yang cukup ekonomis, sekitar tiga hingga lima Euro, kita sudah dapat merasakan nikmatnya makanan tersebut. Dan jangan merasa aneh kalau ternyata porsi yang mereka berikan – untuk ukuran Asia bisa disebut porsi Jumbo.

Di Eropa, kita agak sulit mencari masakan yang berasa kesan garamnya atau yang bercitarasa pedas. Mereka jarang sekali makan makanan pedas. Mungkin, karena cuaca yang dingin sehingga kalau mereka makan pedas mudah sekali sakit perut.

Ada cara lain kalau ingin lebih berhemat. Kita bisa memasak makanan sendiri, yang perlu kita lakukan hanyalah membeli bahan-bahannya di supermarket. Bagaimana dengan bumbu? Jangan khawatir, kita bisa mendapatkan bumbu dengan citarasa tanah air di toko Cina, Vietnam atau Thailand. Di Jerman, kita bisa mendapatkannya di beberapa toko Asia di down town atau pusat kota.

Satu hal yang tak bisa kita temui di Indonesia, yakni air mineral khas Jerman. Di Jerman, air mineralnya umumnya bersoda, jarang kita seklai mendapatkan air putih atau air mineral yang tak bersoda. Hal ini tak diketahui pasti penyebabnya, tapi kemungkinan karena udaranya dingin dan anginnya cukup kuat. Apa hubungannya ya? Sampai tulisan ini diketik pun saya sendiri tidak tahu korelasinya. Mungkin teman-teman tahu?

Berbicara tentang watak dan bahasa orang Jerman, umumnya mereka berbahasa Inggris. Sedangkan tentang watak orang Jerman yang lebih menyukai tak terlalu berekspresi dalam berbicara. Mereka juga sangat patuh pada aturan sehingga terlihat lebih kaku dan lebih dingin.

Pada musim dingin, umumnya mereka tidak terlalu konsumtif, mereka cenderung menabungkan uangnya untuk liburan musim panas (Summer Holiday). Karena itu di musim dingin mereka hanya membeli kebutuhan pokok.

Tulisan ini diringkas dari perjalanan seorang wartawan majalah Percikan Iman.

Tulisan ini ada pada majalah Percikan Iman No.11 Th.VII Nov 2006/Syawal 1427H

One thought on “HIDUP HEMAT DI JERMAN”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s