Andai Obama beragama Islam, so what gitu loh?

APA boleh buat, sampai hari ini, tiga minggu menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat, masih banyak orang Amerika yang menganggap Barack Obama adalah orang Islam, juga orang Arab.

Well, if it is so, so what?
Kalau pun begitu, lantas mengapa?

Kenyataan bahwa masih banyak orang Amerika yang punya anggapan seperti ini sungguh mengherankan sekaligus menyedihkan dan memuakkan.

Mengherankan, karena bagaimana mungkin di sebuah negara, di sebuah highly advanced polity and society seperti Amerika dimana kebenaran dan rasionalitas dijunjung tinggi, dimana pintu komunikasi dibuka ke segala arah, dimana orang punya kebebasan sejati, masih ada yang tidak tahu, atau tidak mau tahu, bahwa Barack Obama yang kelahiran Hawaii dari pasangan Kenya dan Texas itu adalah seorang pemeluk Kristen yang taat, yang menghabiskan banyak waktunya di gereja dan bekerja bersama dengan gereja untuk membangun masyarakat terpinggirkan di lingkungannya.

Benar bahwa ayahnya, Barack Hussein Obama Senior, lelaki suku Lou dari Kenya di Afrika sana yang meraih gelar master ekonomi dari University of Hawaii dan gelar doktor ekonomi dari Harvard University—dua universitas papan atas di Amerika—adalah orang Islam, atau setidaknya pernah menjadi orang Islam dimasa mudanya.

Benar bahwa pada suatu ketika di masa kecilnya, ketika sang ibu Stanley Ann Dunham yang kelahiran Texas menikah dengan Lolo Soetoro, pria Indonesia yang beragama Islam, Obama menetap dan bersekolah di Indonesia. Benar bahwa dia pernah didaftarkan di sekolah di Jakarta sebagai Barry Soetoro yang beragama Islam—karena alasan-alasan yang lebih bersifat teknis-pragmatis.

Benar bahwa sebagai seorang agnostic yang mengagumi keindahan ajaran-ajaran suci setiap agama, sang ibu Stanley Ann Dunham kerap menceriterakan isi Al Quran, seperti juga dia menceriterakan isi kitab suci agama lain, Injil, Hindu Upanishads, dan kitab-kitab Buddha Tao Te Ching kepada kedua anaknya, Obama dan Maya Soetoro, agar mereka mengetahui dan memahami bahwa setiap orang memiliki sesuatu yang indah di dalam diri mereka untuk diberikan kepada masyarakat. Benar bahwa Obama dan adiknya Maya, di masa kecil mereka, sering menyempatkan diri mendengarkan suara azan yang memang jadi hal biasa di Indonesia, dan menilainya sebagai sesuatu yang indah.

Tetapi, bagaimana mungkin sebagian publik Amerika itu mengabaikan kenyataan dan fakta bahwa Obama yang Senator dari Illinois itu adalah jamaah Trinity United Church of Christ di Chicago sejak setidaknya 20 tahun lalu. Dia menikah di gereja itu, dia berteman baik dengan mantan pemimpin gereja itu, Jeremiah Wright, bahkan menganggapnya sebagai seorang paman. Sebelum disibukkan dengan kampanye dalam pemilihan presiden ini, Obama dan keluarganya menghabiskan akhir pekan mereka bersama komunitas gereja mereka.

Menyedihkan, karena anggapan-anggapan mengenai “keislaman” Obama ini seringkali, kerapkali disampaikan dengan nada cemooh penuh kekhawatiran, ketakutan, bahkan jijik yang tak terperikan. Seolah-olah, seakan-akan, menjadi orang Islam adalah sebuah kesalahan besar, dosa yang tak termaafkan, dan karenanya orang Islam harus diasingkan, disingkirkan, dimusnahkan. Dari mulut orang-orang yang masuk dalam golongan ini, Islam dan umat Muslim adalah simbol keterbelakangan, ketertinggalan, a-biadab, primitif, dan satu lagi, teroris.

Memuakkan, karena pandangan seperti ini seperti sengaja diternakkan, dikembangbiakkan, diproduksi terus menerus, diiklankan 24 jam, dijajakan, diajarkan dan ditanamkan. Memuakkan karena kebencian-kebencian ini seperti sengaja dipelihara agar Barat dan Timur selalu dijeda jarak.

Bulan Maret lalu, saat Obama masih berhadapan dengan Senator New York Hillary Rodham Clinton untuk mendapatkan tiket ke putaran final pemilihan presiden, sebuah survei yang dilakukan NBC News/Wall Street Journal Polls menyebutkan: setidaknya13 persen masyarakat Amerika percaya Obama beragama Islam.

Menyambung survei itu, reporter CNN Jeanne Moos turun ke jalan, bertanya kepada warga Amerika di New York, apa menurut mereka agama Barack Obama. Dan hasilnya, sebagian besar dari warga New York yang ditanya oleh Moos, setidaknya yang di-cover dalam tayangan itu, mengatakan Obama beragama Islam.

“Karena itu yang dikatakan orang,” kata seorang wanita ketika Moos bertanya mengapa dia mengatakan Obama beragama Islam.

Perdebatan mengenai latar belakang agama juga ras Obama kembali muncul ke permukaan akhir pekan lalu dalam pertemuan antara kandidat presiden dari Partai Republik John McCain dengan pendukungnya di Minnesota yang sebagian memperlihatkan amarah karena McCain kini berada di belakang Obama dalam beberapa survei politik.

“Saya tidak percaya Obama. Saya membaca bahwa dia adalah orang Arab,” kata seorang wanita pendukung McCain dengan nada kesal.

McCain mencoba meluruskan anggapan keliru pendukungnya ini. “No, ma’am. No, ma’am.”

Sungguh mengherankan, menyedihkan dan memuakkan.

***

“Bagaimana bila Obama orang Arab atau Muslim? Bagaimana bila John McCain orang Arab atau Muslim? Akankah itu menjadi masalah? Kapan persoalan ini (menjadi Arab dan Muslim) menjadi faktor yang dapat mendiskualifikasi seseorang untuk jabatan yang lebih tinggi di negara kita? Kapan Arab dan Muslim menjadi kata-kata yang kotor yang bermakna tidak terhormat dan radikal?” gugat pembawa acara CNN, Campbell Brown.

Dia menilai media massa Amerika Serikat juga terlibat dalam menciptakan opini bahwa menjadi Arab atau Muslim adalah sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan karenanya layak dan pantas dikecam. Publik Amerika, menurut Brown, begitu cepat menerima gagasan yang menganggap bahwa Muslim berbahaya bagi masyarakat.

“Saya melihat sesuatu yang jelas di sini: ada perbedaan antara Muslim radikal yang mendukung “jihad” melawan Amerika dan Muslim yang ingin menjalankan ajaran agama mereka dengan bebas dan memiliki kehidupan normal seperti yang lain,” kata Brown lagi.

Dia menambahkan, ada lebih dari 1,2 juta Arab-Amerika dan sekitar 7 juta Muslim-Amerika yang berada di semua elemen masyarakat Amerika. Mereka ini telah menjadi korban dari imajinasi liar yang cenderung mengabaikan dan bisa memecah belah masyarakat Amerika juga dunia.

“Kita tidak dapat mentolerir ignorance ini, tidak di media massa, juga tidak dalam ajang kampanye. Tentu saja, dia (Obama) bukan orang Muslim. Tetapi sejujurnya, itu (menjadi Muslim) harusnya tidak perlu dipermasalahkan,” demikian Brown.


One thought on “Andai Obama beragama Islam, so what gitu loh?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s